Labang berasal dari Bahasa Madura yang berarti pintu, dan Mesem berarti tersenyum. Labang Mesem artinya pintu yang tersenyum. Pintu gerbang ini dinamakan Labang Mesem dikarenakan dahulu kala setiap tamu keraton yang lewat di pintu gerbang ini akan selalu tersenyum.

Hal ini disebabkan karena keberadaan dua penjaga pintu gerbang ini yang bertubuh pendek (kerdil) dan nampak selalu ramah. Namun ada versi lain yang menyatakan pintu ini diberi nama demikian disebabkan balkon di atas pintu gerbang ini biasa digunakan oleh raja/pangeran pada masa itu untuk melihat istri dan putri-putri keraton yang berada di taman sare.

Labang mesem merupakan hasil perpaduan dua langgam arsitektural yaitu arsitektural nusantara dan China. Labang mesem ini hanya ada di Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep. Labang mesem merupakan pintu utama menuju komplek keraton sumenep.

Labang Mesem merupakan sebutan untuk gerbang keraton yang letaknya tidak jauh dari Taman Sare. Dalam Bahasa Indonesia, Labang berarti pintu, dan Mesem berarti senyum.

Dari sekian versi tentang asal usul nama Labang Mesem, akhirnya disimpulkan, bahwa nama Labang Mesem merupakan simbol. Perlambang atas sikap keramah-tamahan dan penuh senyum dari para raja dan seluruh orang keraton dalam menerima tamu.

Setidaknya ada tiga versi yang melatari pemberian nama Labang Mesem. Pertama, pada jaman dahulu pintu gerbang menuju keraton itu dijaga oleh dua orang cebol. Hal ini bisa dilihat dari dua ruangan dengan pintu rendah di kanan dan kiri gerbang itu. Menguatkan bukti itu, di makam Asta Tinggi terdapat kuburan-kuburan cebol. Karena yang menjaga orang dengan bentuk kecil, maka tak heran bila sering menghadirkan senyum orang-orang yang melintas di gerbang tersebut.

Versi kedua menyebutkan, ruang terbuka yang berada di atas pintu gerbang tersebut merupakan tempat raja untuk mengawasi sekitar keraton. Juga mengawasi putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di Taman Sare.

Konon ketika sedang memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja tampak mesam-mesem. Sebab itulah kemudian gerbang itu disebut Labang Mesem.

Sedang versi yang lain, menyebutkan suatu ketika Keraton Sumenep berhasil memukul mundur pasukan dari kerajaan Bali. Menyisakan dendam, Raja Bali bermaksud menuntut balas. Maka mereka pun datang ke Sumenep beserta bala tentaranya. Namun siapa sangka, ketika mereka sudah sampai di depan gerbang keraton amarah yang diselimuti dendam berubah. Menjadi senyum ramah dan penuh persahabatan. Kabarnya, hal itu merupakan akibat terkabulnya doa raja kepada Tuhan yang Maha Esa. Merubah api dendam menjadi air persaudaraan.

Masih banyak kekayaan sejarah yang bisa dinikmati di keraton ini. Tak cukup tulisan dan foto untuk mengungkap semuanya. Cara paling tepat untuk memuaskan penasaran hati, hanya dengan datang dan menikmati setiap keping mozaik warisan sejarah negeri ini dengan mata kepala sendiri.

Share: