Ungkapan Menohok Ketua Yayasan Nurul Ulum soal Kemah Santri di Pragaan

oleh -826 views
Ketua Yayasan Nurul Ulum, Badrur Rosi (kiri)

Sumenep, teliksandi.net – Ketua Yayasan Nurul Ulum Karduluk, Pragaan, Sumenep, Madura, Badrur Rosi angkat bicara terkait viralnya berita kegiatan Kemah Santri KKM-MI Pragaan yang menuai protes.

Kebetulan, delegasi yang paling getol bersuara memang Bina Pemdamping (Biping) dari MI Nurul Ulum. Sehingga ia merasa penting untuk menyampaikan sudut pandang terkait polemik tersebut.

Pria yang akrab disapa Rosy ini sepakat jika masalah di kemah santri tidak harus dibesar-besarkan, namun juga jangan terlalu disederhanakan dan mesdiskreditkan salah satu pihak. Karena menurut dia, jika ada asap pastilah ada api.

“Dinamika semacam ini wajar dalam sebuah ajang. Yang penting itu, semua menjernihkan sudut pandang, bagaimana masalah itu ada dan bagaimana menyikapinya,” tuturnya saat berbincang dengan media ini, Senin (28/10/2019) malam.

Baca JugaKemah Santri KKM-MI Pragaan 2019, Menuai Protes

Dia menjelaskan, jika lahirnya protes sekadar dipicu miskomunikasi, dengan cara bertemu dan tabayun seharusnya masalahnya bisa clear. “Tetapi ini rasanya dipicu masalah lain, yakni tentang pemahaman mendasar dari kegiatan ini,” sambungnya.

Bahwa kata Rosy, dari yang dirinya amati, ada perbedaan pemahaman tentang Kemah Santri itu sendiri. Pihak penyelenggara memahami kegiatan ini hanya ajang silaturrahmi, bukan kompetitif sebagaimana lomba kemah pramuka pada umumnya

Meski pada kenyataannya di agenda kegiatan terdapat sejumlah lomba-lomba dengan penghargaan juara. Lalu juga ada tropi kejuaraan, yang artinya ada regu terbaik dari ajang tahunan itu.

Di samping itu, sebagian panitia juga berpandangan bahwa Kemah Santri ini bukan ajang adu kreatifitas layaknya kemah pramuka, tapi pemahamannya sepertinya dipersempit menjadi ‘Kemah Santri Bersyariah’.

“Panitia terkesan menyederhanakan pemahaman menjadi seperti itu. Sehingga pada praktiknya, regu yang berlomba atau tampil dengan sedikit kreasi ‘dibunuh’ nilainya dengan alasan tidak ala santri,” ungkapnya.

“Akibatnya tidak ketemulah persepsi panitia dan delegasi itu. Delegasi capek-capek mepersiapkan regu dengan berbagai pernik dan kreasi, tapi di lapangan diamputasi seenaknya oleh panitia. Bahkan untuk hal itu lahir aturan-aturan dadakan di luar hasil tehnical meeting,” paparnya.

Hal lain yang memicu protes dari kegiatan ini adalah minimnya publikasi hasil penilaian. Sementara dalam setiap ajang lomba terlebih ajang perkemahan rekap nilai sesuatu yang sangat urgen dipublikasikan secara transparan, agar tidak menimbulkan kecemburuan peserta.

“Ini malah sama sekali tak dipublikasikan, bahkan katanya saat diminta usai penutupan acara panitia juga tidak memberikan. Nah, dengan demikian sangat wajar jika reaksinya kian panas, karena panitia secara langsung tambah menyulut rasa curiga peserta,” bebernya.

Apalagi, sambung Rosy, di luaran santer beredar kabar bahwa di kegiatan itu panitia memang sengaja membagi rata piala lomba, bukan diberikan sesuai hasil penilaian yang profesinal dan sesuai dengan prestasi masing-masing regu.

“Karena tidak deal di awal, bayangkan saja bagaimana psikologis regu yang ikut kegiatan ini dengan modal pemahaman bahwa ini adalah kemah santri dengan ajang lomba yang dinilai secara sportif dan profesonal. Pasti kecewa kan?,” sergahnya.

Oleh sebab itu, Ketua Yayasan berusia muda ini berpesan, agar semua pihak memandang aksi protes-memprotes panitia itu dipahami utuh dan dialog yang dibangun sesuai konteks. Agar paling tidak menjadi koreksi untuk kemah santri tahun berikutnya.

“Yang tidak puas jangan anarkis, panitia pun juga jangan arogan menanggapi dan menyikapi protes yang ada. Apalagi sampai lupa bahwa pada kenyataannya memang banyak yang harus dievaluasi. Sebaliknya, soal yang ada harus dijawab dan diklarifikasi oleh panitia dengan argumentasi yang baik,” pungkasnya.

Reporter : Ozy