BPBD Sumenep Dorong Desa Gunakan DD untuk Atasi Kekeringan

oleh -55 views
Kepala BPBD Sumenep, Abd. Rahman Riadi

Sumenep, teliksandi.net – Bantuan dropping air bersih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk Desa terdampak kekeringan, rupanya tidak bisa menjangkau wilayah kepulauan.

Meski ada yang terjangkau, itu hanya Desa Kombang dan Palasa, Kecamatan/Pulau Talango. Sementara, daerah kepulauan lain yang juga terdampak kekeringan yakni Pulau Kangean, Giliraja dan Sapeken belum bisa dijangkau.

“Mobil tangki BPBD hanya bisa meng-cover sampai Pulau Talango. Tapi, kalau warga sangat membutuhkan, mobil tangki BPBD mungkin bisa merapat sampai ke pelabuhan Cangkraman, dan warga mungkin bisa mengangsurnya menggunakan perahu tandonnya,” kata Kepala BPBD Sumenep, Abd Rahman Riadi, Selasa (22/10/2019).

Untuk itu, BPBD mendorong desa-desa terdampak kekeringan untuk berkreasi menanggulangi bencana tersebut. Salah satunya yaitu dengan menggunakan Dana Desa (DD) sehingga kekeringan bisa diatasi.

Lanjut Rahman, dalam Permendes disebutkan DD bisa digunakan untuk penanggulangan bencana di tingkat desa, termasuk bencana kekeringan.

Dengan anggaran tersebut, sambung Rahman, pemerintah di desa bisa melakukan pengeboran, beli tandon dan pipa, juga kegiatan lainnya yang berkaitan.

“Kan dana desa di kepulauan itu besar-besar, itu bisa dianggarkan untuk mengatasi kekeringan,” tandasnya.

Sementara Kepala Desa (Kades) Lombang, Pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, Juhirman menyebut jika Pemkab selama ini tidak pernah memberikan arahan dan pemahaman soal Permendes DD bisa digunakan untuk penanggulangan bencana.

“Kami (desa) tidak tahu kalau di Permendes DD itu juga bisa digunakan dalam membantu penanggulangan bencana seperti kekeringan. Karena selama ini belum ada pemahaman dari Pemkab,” ucap dia saat dikonfirmasi awak media.

Namun, dalam mengatasi masalah kekeringan di desanya itu, dia mengaku, bakal menggunakan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) DD untuk melakukan penggalian sumur bor.

“Dari sumur bor itu, kita bisa menyalurkan air bersih kepada warga yang membutuhkan, dan warga tidak harus membeli lagi ke desa tetangga,” harapnya.

Sekedar diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan terjadi pada bulan Desember 2019. Sementara puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2020.

Prediksi itu menunjukkan awal musim hujan tahun ini mundur 10 sampai 30 hari dari perkiraan sebelumnya, yakni Oktober 2019.

“Untuk daerah Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Sumenep sendiri, prakiraan turun hujan itu pada bulan Desember mendatang,” kata Kepala BMKG Kalianget Sumenep Usman Holid.

Reporter : Syaiful
Editor : Badrur