Jodoh itu Berbasis Ruang

0

Oleh: Badrut Tamam

Rahmat Tuhan yang telah menciptakan seluruh makhluk alam semesta dengan desain yang sempurna, dengan proses yang menakjubkan dan tak mungkin ditiru oleh alat-alat artifisial tercanggih dan terbarukan hasil besutan tangan makhluk manapun, terciptalah seisi alam semesta dengan peran dan fungsinya masing-masing berjalan secara alamiah dan eksakta.

Secara keseluruhan, di alam semesta ini diciptakan tuhan berpasangan-pasangan. Semisal, bulan dengan matahari, siang dengan malam. Dan, masih banyak lagi ciptaan lainnya.

Kemudian, bagaimana dengan kita manusia? Tentu kita tidak perlu urat syaraf yang tegang untuk menjawabnya, secara eksplisit tuhan menyebut bahwa manusia merupakan ciptaannya yang menempati proporsi kemakhlukan yang paling sempurna. Sebagaimana terkandung dalam Alquran, Surah At-tin ayat keempat, Ahsani Taqwim, “Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Pun demikian, tuhan menjadikan manusia berpasangan-pasangan dengan sejenisnya. Ketentuan itu tuhan sampaikan dalam firmannya “Dan sesungguhnya dia lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan”.

Berpasangan-pasangan dalam konteks bahasa kita, di kenal dengan istilah jodoh. Jodoh sendiri dalam pemahaman sosial diartikan tambatan hati, kekasih hati, dan separuh jiwa, teman hati, kawan hidup dan masih banyak lagi abrek interpretasi tak mendasar tentang apa itu jodoh. Yang jelas, menurut hemat kami jodoh adalah relasi yang berada pada keridhoan tuhan.

Lalu, dengan siapa kita berjodoh dan di mana kita akan menemukan jodoh?
Pertanyaan sederhana namun cukup rumit untuk dipecahkan. Sebab, ketika bicara soal jodoh, kita meyakini bahwa hal itu mutlak hak otoritatif tuhan.

Sejenak terfikir kembali, bicara soal hak otoritatif tuhan. Penting kita tarik ulasannya pada perihal takdir yang tentunya bagi kalangan awam sangat tidak mungkin di bahas secara komprehensif sebagai konsekuensi dari keterbatasan pemahaman dan kapasitas keilmuan.

Sebagai manusia dengan segala keterbatasan pemahaman, kita sedikit dapat menjawab bahwa takdir itu terbagi dalam dua bagian, yaitu takdir mubram dan takdir muaallaq (takdir yang memang menjadi ketentuan pasti dan takdir yang bersifat kondisional dan sesuai dengan usaha manusianya).

Namun, hal itu belum sampai pada jawaban yang puncak. Sebab, sebagian dalil ada yang menjelaskan bahwa segala yang terjadi didunia telah tercatat di lauhul mahfudzh dan tinta penanya telah mengering sehingga tidak mungkin dirubah, sebagian dalil yang lain menjelaskan bahwa Doa-doa dapat merubah apa yang akan terjadi dikemudian hari.

Disamping itu takdir akan menyeret kita pada pembahasan baru. yaitu ranah teologis, maka atas dasar keterbatasan pemahaman dan wawasan kelimuan, baiknya kita dengan bertaklid untuk berpegang pada Al-Asy’ari dan Al Maturidi. Kita hindari perdebatan sebagai bentuk pengakuan atas keterbatasan tersebut.

Terlepas dari ranah theologis dan takdir sebagai turunannya, penulis coba menjelaskan di mana kita akan menemukan jodoh dan dengan siapa kita berjodoh dengan melihat pada kenyataan konkrit yang sama sama pasti kita jumpai bahkan kita alami.

Pertanyaan dengan siapa kita akan berjodoh dan di mana kita akan menemukan jodoh, lebih mendekati benar karena sudah sering kita saksikan bersama bahkan kita alami, bahwa kita akan menemukan jodoh kita pada wilayah ruang gerak dan tentunya dengan orang yang berada pada ruang gerak kita pula.

Seseorang yang ruang geraknya di wilayah Madura tidak akan mungkin akan berjodoh dengan seseorang di wilayah teritorial Eropa yang notabenenya dipilih sebagai ruang geraknya.

Acap kali mudah dijumpai, Mahasiswa dapat menemukan jodohnya di lingkungan kampus tempat ia bergerak dalam kesehariannya, lain pula yang ruang geraknya terbatas pada wilayah ruang kerjanya pada akhirnya berjodoh dengan koleganya, bawahan dengan atasannya.

Barangkali terdapat antitesa dari apa yang menjadi bahasan, bahwa jodoh itu berbasis ruang. Katakanlah dengan perantara atau media kita bisa berjodoh dengan seseorang yang memiliki ruang gerak berbeda, terlebih dengan akses jejaring sosial yang semakin terbuka. Maka penting untuk disampaikan bahwa ruang gerak yang kami maksud disini adalah ruang yang akan dan telah kita isi atau kita singgahi.

Nah, karena jodoh itu berbasis ruang, maka temukan dan tentukan jodohmu, jodohmu ada disekitarmu. Yang se kantor bisa perhatikan dan pertanyakan pada diri sendiri, barangkali ia berlalu lalang didepan meja kerja namun masih tertutupi dengan lembaran lembaran kertas kerja.

Yang berstatus mahasiswa sah sah saja dari sekarang persiapkan lepas panah pada rekanan sesama mahasiswa yang menjadi target kecenderungannya. Tetapi pastikan dahulu yang menjadi terget tersebut ada indikasi yang menunjukkan bahwa ia juga bersedia berjodoh, demi menghindari sesak hati yang tak berkesudahan.

Kembali bertanya, seandainya orang yang di cendrungi tidak mengindikasikan bahkan secara jelas tidak bersedia berjodoh, Nah hal itu memang berkaitan dengan rasa. Meski sering kita dengar bahwa didunia ini ada yang tak bisa kita pilih hal itu adalah rasa cinta. Menurut hemat kami, rasa cinta masih sangat mungkin untuk kita cipta dengan meminjam bahasa Arab disebut dengan istilah “ikhtiar”.

Tentang rasa tentu kita sudah masuk pada ranah intuisi, secara teori, intuisi dapat dicipta atau lahir dari upaya upaya lahiriah yang kita lakukan. Katakan saja semisal dengan melakukan pembiasaan perhatian penuh yang kemudian akan melahirkan kecendrungan atau rasa cinta.

Jangan kemudian memilih berdiam diri, dibiarkan tanpa ada upaya upaya. Jika terdapat rasa kecenderungan terhadap seseorang maka segeralah untuk di visualisasikan agar orang yang kita cendrungi dapat memahami yabg berujung pada eratnya relasi emosional dan tidak jatuh dalam pelukan orang lain.
Wallahu a’lamu bisshowab.

 

Pamekasan,13 Februari 2021.

Penulis adalah jurnalis Teliksandi.net, biro Pamekasan. Lahir di Dusun Mondung Desa Dasok Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan pada 19 September 1995.