Demo Rusuh di Sumenep, Kapolres-Mahasiswa Saling Tuding Ingkar Janji

0

Sumenep, teliksandi.net-Aksi tolak UU Cipta Kerja oleh PMII dan GMNI Cabang Sumenep di depan Kantor DPRD Jl Trunojoyo No 124 Bangselok Sumenep, pada Senin (13/10/2020) kemarin rupanya masih manuai berbagai persoalan.

Sebab, Aksi yang berlangsung 3 jam lebih itu masih belum menemui titik terang. Permintaan massa aksi untuk masuk ke gedung dewan guna memastikan keberadaan para dewan yang katanya sedang dinas di luar kota dihadang oleh pasukan Polres Sumenep.

Sebelumnya, massa aksi sempat bernegosiasi dengan Kapolres Sumenep, AKBP Darman beserta Dandim Kodim 0827 guna mencapai kesepakatan bersama.

Alhasil, aparat keamanan mempersilahkan massa aksi untuk memasuki gedung DPRD setempat. Namun, hanya mempersilahkan perwakilan dari para demonstran, yakni 5 orang saja.

Kendati hal itu ditolak massa aksi, para aktivis Sumenep itu meminta, semua massa dipersilahkan masuk.

Salah seorang orator aksi, Muhammad Nur menyampaikan, aparat keamanan telah menyepakati, bahwa massa aksi bisa masuk secara satu persatu tanpa tindakan anarkis. Namun, saat massa hendak memasuki gerbang, malah mendapat hadangan pihak kepolisian.

“Tadi sudah menyepakati, tapi setelah kita mau masuk malah dihadang kembali,” ungkap mantan Ketua Komisariat PMII STITA itu dalam orasinya.

Menurut Muhammad Nur, aparat kemanan telah menyalahi kesepatakan. “Kalau kami tetap dihalangi kami meminta Kapolres Sumenep Mundur dari Jabatannya,” teriaknya dengan muka memerah.

Kendati demikian, pria yang karib disapa Cak Nur itu meminta Dandim Letkol If Nurcholis agar mundur dari jabatannya. Sebab menurutnya, pihak Kodim sama dengan Polres yang ingkar janji.

Sementar AKBP Darman menyampaikan, pihaknya memang membatasi cukup 5 orang massa aksi yang bisa masuk. Ia mengaku, massa waktu negosiasi telah sepakat hanya perwakilan 5 orang yang bisa masuk. Namun, ketika hendak masuk massa aksi malah memaksa untuk masuk semua.

“Sudah dituruti permintaannya, awalnya cukup seorang, kemudian naik jadi 3 orang dan akhirnya diputuskan hanya 5 orang yang bisa masuk,” tegasnya.

Akibat kesalahpahaman yang berbeda, kericuhan pun terjadi antara aparat keamanan dan massa aksi. Mereka saling dorong di depan gerbang Kantor DPRD Sumenep.

Akibat kericuhan tersebut, beberapa massa aksi terluka dan 7 mahasiswa ditangkap oleh Polres Sumenep.

Reporter : Taufiq
Editor : Naylia