Demo Mahasiswa di Sumenep Ricuh : Mereka adalah Provokator

0

Sumenep, teliksandi.net-Aksi demontrasi yang dilakukan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di depan kantor DPRD Sumenep, berakhir ricuh, Senin (12/10/2020).

Dalam aksi tersebut mereka menuntut agar DPRD Sumenep menyatakan sikap secara langsung di hadapan mahasiswa, untuk menolak UU Cipta Kerja yang disahkan pada tanggal 5 Oktober 2020 oleh DPR pusat.

Namun pada saat itu, Ketua DPRD Sumenep sedang ada Kunjungan Kerja di luar daerah, sehingga massa aksi tetap memaksa masuk untuk memastikan hingga terjadi aksi saling dorong dan baku hantam antara mahasiswa dan polisi.

Masa aksi tersebut dibubarkan pihak kepolisian dan menangkap beberapa demonstran yang dianggap anarkis.

“Hasil lobi yang disepakati teman-teman dan Dandim, Polres juga, bahwa kita sepakat tertib masuk ke kantor DPRD dengan tanpa anarkis,” kata Ketua III PMII Cabang Sumenep, Ahmad Fauzi.

Menurut dia, ketika massa sudah hampir masuk, malah dari pihak kepolisian tidak konsisten dengan apa yang sudah disepakati, sehingga mereka tetap memaksa masuk dan terjadilah tindakan anarkis yang dianggap provokator.

“Yang jelas kami sudah mengantongi beberapa video dan foto yang mengidentifikasikan bahwa massa itu bukan bagian dari kami, karena waktu itu provokator pakai sarung, maka itu bukan bagian dari kami,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, aktivis yang ditangkap pihak kepolisian untuk sementara yang di ketahui berjumlah 7 orang yakni berasal dari aktivis PMII dari Kampus UNIJA, STKIP, STIKNIS, dan INSTIKA.

“Di sini kita mau ke Polres Sumenep untuk mengecek teman-teman kita yang infonya akan dikeluarkan pukul 20.00 WIB malam ini,” tambah Ketua GMNI Sumenep, Miskiyatun.

Sementara itu, Kapolres Sumenep, AKBP Darman menyampaikan, penangkapan tesebut dilakukan karena dianggap dari aksi demontrasi sudah anarkis akibat dari pelemparan batu tehadap kepolisian.

“Masa yang diamankan akan dirapid test dulu, jangan-jangan nanti jadi klaster baru,” pungkasnya.

Reporter : Hanif Tanzil
Editor : Naylia