Cinta Sebagai Solusi Problematika Manusia

0

Opini: Badrut Tamam

Narasi cinta tak ada usainya bagi yang menyadarinya, meski tentang cinta dimulai dari awal penciptaan manusia, namun tidak pernah sampai pada puncak klimaks pembahasannya. Ia senantiasa mengisi sendi sendi kehidupan manusia bak polusi yang berhembusan pada ruang ruang publik kita.

Bagaimana kiprah sesuatu yang abstraksi ini dalam kehidupan dapat kita rasa. Kita perlu Flasback pada masa dulu kala, masa masa balita dan belia kita, mulai dari masa dalam pangkuan ibunda, disana kita dapat merasakan bagaimana manisnya sentuhan cinta yang diberikannya, kita siksa tidur ibunda kita untuk begadang sepanjang waktu malam momong kita.

Lagi lagi semua yang kita dapat pada masa itu juga karena alasan cinta, atas dasar relasi cinta kita dapat tercipta dan lahir ke dunia.

Setelah kita remaja bahkan dewasa pun kita tidak dapat menafikan bahwa cinta senantiasa masih tetap mengisi sendi kehidupan manusia. Tak sedikit dari manusia remaja bahkan dewasa yang menangis dan bahagia lantaran cinta.

Pada peradaban manusia yang kian dewasa, tak sedikit acara televisi yang menayangkan acara beraroma dan bernada cinta. Mudah kita temui goresan goresan pena yang mengilustrasikan indahnya cinta.

Hampir keseluruhan remaja di sekeliling kita yang memilih literasi cinta sebagai konsumsi bacanya, mulai dari goresan goresan tangan Asma Nadia, Hikayat hikayat cinta Buya Hamka, sampai seorang Boy Chandra yang notabene goresan tangannya diatas kertas mampu membius kaum remaja.

Sering dijumpai dua sejoli yang di mabuk cinta, mereka tenggelam pada alam lamunan estetika cinta, sehingga enggan berkompromi dengan dunia nyata yang memaksa memisahkannya.

Karena Narasinya yang tak kunjung usai di dengungkan dan senantiasa eksis menyertai hidup manusia pada setiap pergantian zamannya, seolah olah ketika bicara cinta lebih dekat pada alam abadi yang tak ada titik jenuhnya.

Tidak salah ketika saya mengatakan bahwa Dengan cinta kita dapat hidup dengan etika yang membuahkan estetika.

Sedemikian dalam menggambarkan cinta yang pada gilirannya senantiasa menjadi tiang pancang konstruksi kehidupan manusia serta tak dapat di nafikan bagaimana indahnya hidup dengan cinta.

Tetapi pada Gilirannya, dewasa ini mayoritas dari kita hanya mampu mengejawantahkan cinta dalam arti sempit bak kolam yang tak leluasa, enggan kita berkontemplasi dan mengimplementasikan nada nada cinta dalam artian yang luas seluas hamparan samudera.

Sebagai sebuah alternatif penyelesaian konflik konflik kepentingan dan benturan benturan beragam hasrat dalam pelbagai lini kehidupan masing – masing kita.

Acap kali kita berekspresi didunia enggan bertumpu pada cinta, narasi cinta dinilai sebagai sebuah narasi yang usang dan dipandang sebagai sebuah lamunan belaka.

Keblingernya kita memandang dunia harus terbangun diatas rasionalitas belaka, menutup rapat rapat ruang dimensi sebagai manusia yang memiliki jiwa tempat bersemayamnya cinta sebagi Fitri dalam diri kita.

Dalam relasi yang luas antar sesama misalnya, seandainya secara keseluruhan dari kita bertumpu pada cinta, dipastikan tidak akan ada darah bertumpahan apapun motif persoalannya, tidak akan ada tetangga yang lapar diatas bentang bumi yang kaya raya bak surga, tidak akan ada perang syaraf mempertahankan pendapat dalam ruang ruang dialektika, dan tiidak akan kita dengar hujatan hujatan persetan dalam memandang sesama atas kekurangannya.

Sebab dengan cinta kita akan meraih dan menaruh empati terhadap sesama yang pada akhirnya akan menggiring kita pada kesadaran yang paripurna bahwa yang lain juga memiliki rasa yang harus dijaga, memiliki kepentingan yang harus di pentingkan jua, memiliki pemikiran dan pendapat yang harus didengar pula, memiliki keinginan yang harus dihargai bersama.

Yah begitulah kira kira harusnya cinta menjelma dibumi manusia, Menjadi manhaj hidup yang tak lepas pula dalam beragama dan berbangsa, bermodal cinta untuk kita dapat meraih gelar insan paripurna.
Wallahu A’lam Bisshowab

Mojokerto 15 Februari 2021.

 

Panulis adalah jurnalis Teliksandi.net wilayah Pamekasan. S1 ditempuh di Universitas Islam Madura, saat ini tengah melanjutkan studi di Pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam Institut KH. Abdul Chalim Mojokerto.